Lulusan IT Berbeda Skill Dengan Membuat Digital Startup Company

Dengan maraknya trend “digital startup” belakangan ini, dan berita-berita yang diusung para media bahwa kalau membuat sebuah digital startup dan sampai sukses, maka akan menjadi kaya raya. Paling tidak, itulah impian yang dikejar. Bekerja sesuai passion (karena digital startup diasosiasikan dengan IT, coding, programmer, etc) dan bisa sukses, alangkah indahnya.

Beranjak dari hal tersebut, para penggiat startup digital kebanyakan adalah lulusan IT (termasuk yang belum lulus). Bahkan bagi orang yang ingin masuk ke dunia tersebut dan bukan berasal dari lulusan IT akan merasa terintimidasi karena merasa tidak memiliki skill yang cukup untuk membuat sebuah digital startup company.

Saya sedang membaca sebuah buku berjudul “The First 20 Hours: How to learn anything…..FAST!”. Topic terpentingnya adalah kita mendedikasikan waktu kita sebanyak 20 jam untuk benar-benar fokus mempelajari sesuatu yang baru. Kita semua memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam, tidak lebih dan tidak kurang. Kebanyakan dari kita selalu mengatakan ‘tidak punya waktu’ ketika ingin melakukan sesuatu yang baru.

Menurut Josh Kaufman, penulis buku tersebut, waktu tidak bisa ‘ditemukan’. Berbeda dengan kalau kita ‘menemukan’ uang di kantung celana, jacket, atau di jalan. Waktu hanya bisa ‘dibuat’. Jadi, bagaimana dengan Anda, masih menggunakan ‘tidak punya waktu’ atau ‘tidak mau membuat waktu’ jadi available. Itu adalah management skill saja.

Nah terkait dengan judul artikel ini, lulusan IT belajar berjam-jam, lebih dari 20 jam, selama 4 tahun, kuliah dengan topic tertentu. Tetapi mereka lupa, bahwa membuat sebuah digital company, is TOTALLY DIFFERENT dengan belajar IT atau Programming.

Membuat sebuah startup dengan goal mendapatkan investor (ini salah satu contoh saja). Kalau kuliah IT disamakan dengan membuat startup company, bagaimana kalau sebelum mendapatkan investor, maka Anda tidak akan bisa lulus dan mendapatkan ijazah? :) It’s TOTALLY DIFFERENT kan.

Maka bagi Anda yang tidak memiliki background IT jangan takut untuk masuk ke dunia digital startup, tetapi pesan saya adalah untuk yang sudah mempunyai background IT dan bahkan sedang membuat startupnya. Pesan saya adalah, karena background Anda berbeda dengan pekerjaan Anda, SUDAHKAH Anda belajar, mendalami, skill yang dibutuhkan untuk membuat Digital Startup Company?

Kesalahan yang sering saya dengar ketika orang membuat startup adalah mereka selalu memulainya dari membuat produk, baru setelah itu memikirkan marketnya. Ketika saya kuliah property saat ini, prinsipnya sama, bukan kita mau bangun gedung, baru mencari market, melainkan, find the market first, baru bangun gedung sesuai target marketnya. Kesalahan startup memulai dari membuat produk memang tidak bisa disalahkan 100% karena itulah background edukasi mereka. Tetapi melalui tulisan saya ini, saya ingin mengingatkan bahwa kalau Anda hanya expert di bidang Technology (baca: programming), maka pengetahuan Anda tentang building Digital Startup Company is ZERO! Banyak sekali yang harus dipelajari ketika Anda mendirikan sebuah Digital Startup Company. Bagaimana Anda menemukan market, validasi ide, benchmarking competition, delivering your product to your customer. Bagaimana menentukan pricing model, siapa yang akan menggunakan vs siapa yang akan membayar, legal stuff, etc. Banyak banget kan.

And untuk itu Anda harus mendedikasikan waktu Anda untuk belajar lagi. Pertanyaannya, sudah siapkah Anda? Atau Anda merasa skill Anda sudah cukup untuk membuat Digital Startup Company?
Jawabannya ada di HASIL AKHIRNYA……

Good luck:)
@DennySantoso

One thought on “Lulusan IT Berbeda Skill Dengan Membuat Digital Startup Company

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>