Bagaimana @DennySantoso Memvalidasi Market Bisnisnya

Ketika kita ingin memulai sebuah bisnis, terutama bisnis online dan berjualan barang, banyak orang awam menanyakan pertanyaan yang salah yaitu “Sebaiknya saya berjualan produk apa?” atau “Bagaimana saya mendapatkan produk untuk dijual”. Kemudian banyak seminar, workshop yang menjelaskan bahwa untuk memulai sebuah bisnis, Anda harus memiliki marketnya terlebih dahulu. Apakah Anda sudah menentukan market yang tepat? Market yang kira-kira kalau Anda beri solusinya, mereka akan mau membeli dari Anda?

Beranjak dari pemikiran tersebut, sudah banyak orang yang mulai berpikir dengan benar bahwa market harus ada terlebih dahulu. Dan produk lebih mudah, kita bisa mencari partner pemilik produk, bisa menjualkan barang orang lain terlebih dahulu, yang pasti lebih mudah daripada menentukan sebuah market.

Artikel ini saya buat, karena pemikiran tersebut ‘kurang’ lengkap dan tidak cukup untuk menjalankan sebuah bisnis.
Saat ini saya sudah 14th melakukan bisnis penjualan suplemen fitnes, dan sudah 1th berekspansi di bisnis penjualan kosmetik dan skin care. Beberapa hari ini saya mulai berpikir dan membandingkan framework cara kerja saya ketika saya memulai bisnis suplemen dengan ketika saya memulai bisnis skincare. Saya menemukan hal yang menarik yang saya pikir cukup berguna jika saya share disini.

Mungkin akan lebih mudah jika saya ceritakan apa yang saya lakukan 14 tahun yang lalu. Saat itu saya melihat peluang berjualan suplemen fitnes. Peluang itu datang bukan karena banyaknya permintaan, tetapi karena saya melihat jarang banget orang mengenal  suplemen. Sehingga saat itu  toko yang menjualnya pun juga sangat sedikit. Saya merasa kalau saya bisa menjual dan mengedukasi market, maka saya akan bisa menjalankan bisnis saya. Marketnya waktu itu sudah jelas, yaitu para pelaku fitnes. Orang yang setiap hari datang ke tempat fitnes untuk berlatih. Market sudah terdefinisi tetapi apakah berarti itu sudah jelas? Ternyata tidak, setelah mendefinisikan market dan menentukan produk yang cocok untuk market tersebut, yang paling penting adalah akses ke market tersebut. Saat itu tahun 1999, tidak ada yang namanya social media. Semua harus dilakukan manual, jadi saya membeli berbagai macam merk suplemen di US, kemudian menjualnya ke gym-gym yang ada di kota saya, Malang.

Kegiatan saya itu bisa dikategorikan sebagai test market di awal, saya mencoba memvalidasi apakah market gym tersebut mau membeli suplemen dari saya. Tidak peduli brand atau produk apa (karena toh mereka tidak mengerti) sehingga kalau pejelasan saya cukup bagus dan mereka bisa menerimanya, maka mereka akan membelinya.

Setelah berjalan 3 tahun dan saya sudah mempunyai customer yang membeli secara rutin di tempat saya, barulah saya mengambil 1 merk khusus untuk saya pegang secara eksklusif. Dan ketika eksklusif, maka ada tantangan baru yaitu harus memenuhi minimum order dari pemilik merk. Saat itu saya sudah mempunyai buying customer yang berjalan, walaupun jumlahnya belum bisa memenuhi persyaratan minimum order, tetapi paling tidak business modelnya sudah benar, tinggal di scale sedikit lagi. Bandingkan apabila Anda tidak mempunyai buying customer yang sudah berjalan, akan sangat berat sekali untuk start pertamanya.

Saat ini, saya sudah menjalankan bisnis kosmetik selama 1 tahun, dan di tahun pertama juga kondisinya sama seperti ketika saya menjalankan suplemen bisnis saya. Berjualan semua merk sesuai permintaan customer untuk memvalidasi market, dan untuk membangun buying customer saya. Tidak cukup apabila hanya membuat ‘profile’ customer saja karena bisnis Anda butuh cash flow.

Setelah 1 tahun berjalan, saya sudah mengetahui kurang lebih mana yang disukai oleh market saya, dan mempunyai buying customer, saya mulai meluncurkan brand sendiri dimana saya juga melakukan perjanjian yang sama, yaitu eksklusif distributor untuk Indonesia. Dan sebulan pertama ini, hasilnya cukup memuaskan, apalagi saat ini kita sudah banyak diuntungkan dengan adanya teknologi, social media, dll yang bisa membantu kita mencapai market kita lebih luas, lebih cepat dan lebih murah.

Frameworknya bisa Anda lihat, sama persis, yaitu definisi market di awal, kemudian jual semua produk sesuai market. Tidak peduli harus brand tertentu, saat ini Anda butuh customer, bukan branding di awal. Setelah Anda yakin kenal customer Anda dan mereka sudah melakukan repeat order di Anda, dan jumlahnya ‘cukup’ untuk mengenalkan produk tertentu, barulah Anda meluncurkan produk Anda tersebut.

Semoga tulisan saya ini bisa berguna ketika Anda ingin memulai bisnis. Paling tidak, framework ini saya gunakan 2x dalam rentang 14 tahun dan hasilnya cukup memuaskan untuk saya.

Salam
@DennySantoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>